Berita KampungPerkebunan

Bersatu dalam Aksi Damai, Sembuluh Menolak Hancur

Menurut Undang-Undang penyelanggaraan perkebunan salah satunya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, hal ini sungguh jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh masyarakat sekitar danau Sembuluh. Dikelilingi oleh setidaknya dua belas perkebunan kelapa sawit justru menurunkan kualitas hidup mereka. Menolak untuk berdiam diri melihat kehancuran alam mereka, masyarakat sekitar Danau Sembuluh bersatu dalam sebuah aksi masa.

Pagi ini, Minggu tanggal 13 Januari 2018, stadion sepak bola Kertapati Danau Sembuluh, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan terlihat ramai. Masyarakat Danau Sembuluh mulai berbondong-bodong datang memenuhi lapangan sejak sekitar pukul 08.00 WIB. Dengan penuh semangat masa yang berjumlah sekitar 350 orang ini membawa spanduk, papan plang, dan bendera merah putih. Bukan hanya laki-laki dan pemuda, perempuan, bahkan anak-anak juga ikut memenuhi lokasi.

Baca Cerita dari Balik Jendela Danau Sembuluh

Berbeda dari biasanya, kali ini masyarakat berkumpul di lapangan sepak bola desa bukan untuk menonton pertandingan sepak bola, melainkan guna melakukan aksi damai. Aksi yang berlanjut sampai ke depan gerbang pos PT Selonok Ladang Mas sebagai salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit di kawasan Danau Sembuluh ini bertujuan untuk menuntut pelaksanaan UU dan kebijakan dari Pemerintah dan Korporasi. Secara khusus masyarakat menyinggung UU Nomor 3 tahun 2014 tentang perkebunan dan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah Nomor 5 tahun 2011 tentang pengelolaan usaha perkebunan berkelanjutan terkhusus pasal 23.

Atas dasar UU dan Perda tersebut penyelenggaraan perkebunan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Sehingga pelaku usaha perkebunan wajib memperhatikan dan memelihara kelestarian lingkungan hidup dengan mengelola sumberdaya alam secara lestari dan bekelanjutan. Ironisnya bukan hanya kehilangan hak atas tanah mereka, masyarakat Danau Sembuluh juga kehilangan sumber—sumber kehidupannya akibat pencemaran dan pengrusakan lingkungan yang dilakukan oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit yang banyak beroperasi di sekitar wilayah mereka.

Menurut pasal 32 UU Nomor 3 tahun 2014 menjadi kewajiban pelaku usaha perkebunan untuk mengikuti tata cara sesuai perundang-undangan agar mencegah timbulnya kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup. Sedangkan dalam Perda Nomor 5 tahun 2011 pasal 23 secara khusus memuat kewajiban pelaku usaha untuk memperhatikan sumber air dan kehidupan masyarakat. Perda ini mengatur jarak pembangunan pekebunan dari sumber kehidupan masyarakat, seperti larangan melakukan kegiatan pembangunan perkebunan dalam radius kurang dari 500 meter dari tepi waduk atau danau, 200 meter dari tepi mata air dan kiri kanan sungai di daerah rawa, 100 meter dari kini kanan tepi sungai, dan 50 meter dari tepi anak sungai. Selain itu Perda tersebut juga mengatur larangan melakukan kegiatan pembangunan kebun dalam jarak kurang dari 500 meter dari jalan nasional, 250 dari jalan provinsi, dan 100 meter dari jalan kabupaten.

Jika berdasarkan dari peraturan dalam UU dan Perda tersebut maka perusahaan perkebunan kelapa sawit di sekitar Danau Sembuluh dapat dipastikan telah melakukan pelanggaran. Misalnya, area kebun PT Salonok Ladang Mas lokasi aksi masyarakat hari ini berada tepat dipinggir jalan negara. Sedangkan di pinggiran danau Sembuluh dapat dilihat kebun kelapa sawit perusahaan—perusahaan di sekitar yang langsung berbatasan dengan danau. Lebih buruk lagi, di sekitar Danau Sembuluh terdapat setidaknya 3 pabrik perkebunan kelapa sawit yang berhubungan langsung dengan Danau Sembuluh. Keberadaan pabrik tersebut telah menurunkan kualitas air di danau Sembuluh.

Danau Sembuluh sebelumnya bukan hanya menjadi sumber air utama masyarakat sekitar, namun juga sumber ikan bagi nelayan. Kini masyarakat tidak bisa langsung mengkonsumsi air dari danau lagi karena air danau sudah berubah warnanya menjadi keruh, berbau, dan berasa. Apalagi di sekitar area yang dekat dengan pabrik, bau airnya sangat tajam. Banyaknya ikan yang mati akibat keracunan juga menurunkan hasil tangkapan ikan para nelayan. Sehingga, hadirnya perkebunan sawit bagi masyarakat Danau Sembuluh bukan hanya menghilangkan tanah mereka, tapi juga menghilangkan sumber air dan ikan.

Menyadari alam sekitar mereka yang semakin hari semakin menurun kualitasnya dan rusak seperti itu, masyarakat merasa tidak boleh tinggal diam. Hal inilah yang dilihat oleh Dimas Novian Hartono, Direktur WALHI Kalimantan Tengah, dalam aksi damai masyarakat Danau Sembuluh hari ini. Dimas mengatakan, “aksi ini merupakan bentuk kemuakan masyarakat atas hadirnya perusahaan sawit, lahan mereka hilang, kesejahteraan semakin menurun, lahan yang diambil paksa hingga pada hasil plasma yang tidak sesuai dimana perbulan hanya Rp 30.000 sampai Rp 100.000.”

Aksi damai masyarakat Danau Sembuluh hari ini adalah suatu bentuk persatuan masyarakat yang menyuarakan ketidakadilan yang mereka alami. Dalam aksi ini terkandung harapan; menggerakan hati dan nurani para penguasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *